Best Entries

Tampilkan postingan dengan label Muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslim. Tampilkan semua postingan

Jumat, Agustus 16, 2013

Semoga waktuku tidak habis sia-sia


Barakallahu fi Umrik ya Habibi...

Itulah pesan kecil yang dia kirimkan Jum'at ini melalui app chat messenger pukul 8.11 WIB.

Aku tersenyum tipis membaca pesan dari kekasihku, yang saat ini berada di Klaten. Aku berdoa pada-Nya agar ia dilapangkan rizki dan sabar di bulan-bulan terakhir masa kontrak kerjanya. Sungguh aku sangat merindukannya setelah hampir 3 bulan tak jumpa. Aku hanya mampu berkomunikasi di ufuk tidurnya,
sekedar mengucapkan selamat malam. Sekalipun ia jauh, ia selalu menyempatkan mengirimkan pesan dan beberapa doa untuk selalu ikhtihar dan tawakal dalam mencari ridho Allah SWT.

Don't waste your time!!
#Time #Deadline #Pressure #photooftheday #bestphotooftheday
Instagram ~ @ydhnenggala
Sudah tertinggal jauh sekiranya dalam urusan akademik, karena dia lulus terlebih dahulu dengan predikat cumlaude dan aku masih berkutat dengan pendalaman materi. Bekerja pun sama tertinggalnya karena hanya sepertiga dari pendapatannya, dengan karirku yang berjalan di tempat.

Bulan ini, tepat setahun yang lalu di wisuda. Sebuah target cita-cita yang terwujud harus melangkah kembali dengan menggendong cita-cita lainnya, menjadi seorang manusia yang sesungguhnya. Kerja apapun asal bisa hidup harus dilakukan.

Namun, sepanjang ini belum ada perubahan nasib.

Wallahu a'lam apa yang tertulis di lauh mahfuzi..

Semangat mengejar cita-cita tidak boleh redup, ibadah dan doa juga tidak boleh ikut larut dalam kesedihan. Percaya, bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu merubahnya sendiri (QS Ar-ra'd ayat 11) dan tidak akan memberi cobaan diluar batas kemampuan kita. Allahumma amien..

Semoga dibarokahi Allah umurmu ya sayang..

Selasa, Juli 09, 2013

Antara Hisab, Rukyat, dan Bulan Sabit

Happy Ramadhan
*Muh. Ma'rufin Sudibyo

KOMPAS.com
 - Dua kata yang kerap muncul tiap kali bulan Ramadhan maupun Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha datang menjelang adalah hisab dan rukyat. Bagi publik, keduanya mungkin dianggap sebagai "biang keladi" utama dalam masalah perbedaan mengawali Ramadhan maupun berhari raya. Sebenarnya, apa sih hisab dan rukyat itu?

Secara harfiah, hisab merupakan perhitungan falak, khususnya terkait elemen-elemen posisi Bulan, baik dalam rupa elemen geometris ataupun fisis. Elemen geometris Bulan berkaitan dengan posisi Bulan di dalam bola langit, baik bola langit ekliptika, ekuatorial maupun horizon.

Dalam khasanah astronomi kontemporer, elemen tersebut dinyatakan sebagai koordinat lintang ekliptika, bujur ekliptika, deklinasi, right ascension ataupun tinggi dan azimuth. Sementara,  elemen fisis terkait dengan sifat-sifat fisis Bulan seperti kecerlangan (magnitudo semu), fase (iluminansi), lebar sabit Bulan, panjang busur sabit Bulan dan nilai kontras Bulan. 

Tinggi dan azimuth menjadi elemen geometris yang paling sering dijumpai, meski bukan yang paling menentukan. Kala kita melayangkan pandangan ke panorama langit dan bumi di sekitar kita, maka di mana pun titik pandang kita di permukaan Bumi, pada galibnya kita sedang memandangi sisi dalam sebuah bola langit.

Ada dua belahan bola langit yang ukurannya sama besar, yakni bola langit atas dan bawah. Batas antara keduanya adalah bidang datar yang berpusat di tempat kita berdiri dan membentang ke segenap penjuru hingga berpotongan dengan bola langit sebagai lingkaran besar. Itulah horizon sejati, atau kaki langit, atau cakrawala.

Saat kita berdiri di pesisir atau lahan datar nan luas tanpa tutupan pepohonan maupun tonjolan bukit, cakrawala dengan mudah diidentifikasi sebagai bidang tempat bertemunya langit dan laut, atau titik pertemuan langit dan daratan nun jauh mata memandang. Apa yang kita saksikan itu sesungguhnya adalah horizon semu. Sementara, horizon sejati sedikit ada di atasnya.

Horizon semu terjadi akibat Bumi kita memiliki selimut udara (atmosfer) tebal dengan sifat optisnya sendiri, sementara posisi kita berdiri selalu memiliki jarak vertikal tertentu terhadap paras air laut rata-rata.

Bulan senantiasa memiliki tinggi dan azimuth yang nilainya berubah-ubah dari waktu ke waktu. Tinggi Bulan adalah sebuah busur vertikal yang berpangkal di horizon menuju titik zenith (titik puncak bola langit) melintasi Bulan, yang memiliki satuan derajat. Jika Bulan itu tepat berada di horizon, maka tingginya adalah 0 derajat, sebaliknya jika berada di zenith maka tingginya tepat 90 derajat. Azimuth adalah busur mendatar yang ditarik dari arah utara sejati menuju ke timur hingga berujung di titik potong busur tinggi Bulan dengan horizon.

Azimuth setara dengan arah mata angin, namun dinyatakan dalam nilai tertentu yang khas. Misalnya utara, selalu dihargai dengan azimuth 0 atau 360 derajat, sementara timur, selatan dan barat masing-masing berharga 90, 180 dan 270 derajat. Produk dasar hisab pada umumnya adalah data tinggi dan azimuth Bulan serta tinggi dan azimuth Matahari bagi satu titik di Bumi saat Matahari terbenam pasca konjungsi.

Meski dalam kacamata astronomi produk sesungguhnya tak sebatas itu, karena masih terdapat elemen lain yang (sebagian) kurang populer seperti halnya beda tinggi, elongasi, lebar sabit Bulan, panjang busur sabit Bulan, dan nilai kontras.

Adapun, rukyat dimaknai sebagai observasi Bulan, khususnya saat Matahari terbenam pasca konjungsi. Observasi ini tersebut menyasar ada tidaknya busur sabit Bulan yang teramati di tengah lingkungan langit senja yang masih cemerlang bergelimang cahaya.

Rukyat dilakukan dengan atau tanpa bantuan alat bantu optik seperti teleskop/binokuler ataupun instrumen teodolit yang diberdayakan ulang. Di masa kini, penggunaan alat bantu optik lebih ditekankan, terutama untuk memastikan arah pandang mata benar-benar menyasar Bulan yang sesungguhnya. Sebab, dengan kian sedikitnya ahli falak dan meredupnya pengetahuan publik terkait ilmu terkait, terdapat cukup banyak fenomena alamiah/buatan yang sejatinya bukan hilaal namun disangka sebagai hilal.

Dalam beberapa kasus, benda-benda langit seperti Merkurius, Venus, Mars dan Jupiter kerap disangka hilal. Demikian pula sumber-sumber cahaya artifisial nan jauh di batas pandangan mata seperti lampu menara, balon udara, lampu pesawat dan lampu kapal/nelayan. Pada giliran selanjutny,a benda-benda langit artifisial tanpa lampu namun meiliki permukaan mengkilap yang sanggup memantulkan cahaya Matahari seperti stasiun antariksa internasional (ISS) dan satelit telekomunikasi Iridium pun berpotensi disangka sebagai hilal.

Mengingat keduanya memiliki kemampuan memproduksi kilatan (flare) yang sangat terang bahkan hingga melebihi terangnya Bulan sabit meski dalam sekejap.

Dua sisi mata uang

Dalam persepsi publik masa kini, hisab dan rukyat kerap diposisikan berseberangan dan seakan saling berlawanan. Padahal, sesungguhnya dalam perspektif astronomi, keduanya ibarat dua sisi dari sekeping mata uang logam sehingga tak bisa dicerai-beraikan.

Rukyat menghasilkan data-data temporal (terkait waktu) kala Bulan berstatus hilal. Data-data tersebut lantas dapat dianalisis oleh hisab sehingga menghasilkan batas minimum matematis mencakup elemen geometris dan fisis Bulan saat berstatus hilal.

Batas minimum itu, di kemudian hari, menjadi persamaan prediktif yang membatasi Bulan saat berstatus sebagai hilal terhadap status-status lainnya. Persamaan tersebut dikenal dengan nama kriteria visibilitas atau lebih populer sebagai kriteria saja.

Pada gilirannya, kriteria visibilitas menjadi faktor pembatas nan tegas terhadap hasil-hasil rukyat yang diselenggarakan di kemudian hari, sehingga memastikan apakah produk rukyat itu bersifat sahih (valid) ataukah tidak. Bila sahih, maka produk rukyat merupakan data hasil pengukuran yang lebih teliti sehingga akurasi kriteria kian lama kian meningkat. Hal semacam ini merupakan langkah baku dalam dunia ilmu pengetahuan khususnya ilmu alam, di mana sebuah model matematis (teori) selalu dibandingkan terus-menerus dengan observasi-observasi berikutnya guna memperbaikinya dan sebaliknya prosedur obvservasi pun menjadi kian baik di bawah topangan model matematis termutakhir.

Kesatuan rukyat dan hisab yang tak terpisahkan telah cukup dipahami cendekiawan falak generasi terdahulu sebagai bagian pencarian panjang akan definisi hilaal. Secara harfiah hilaal memang bermakna sabit Bulan yang tertipis (termuda) pasca konjungsi. Namun, makna tersebut perlu diturunkan lebih lanjut sehingga mencakup aspek-aspek elemen geometris dan/atau elemen fisis Bulan.

Dalam era klasik yang berlangsung sejak awal mula peradaban Islam hingga sekitar lima abad silam, cendekiawan falak memusatkan perhatian merumuskan definisi hilaal dalam dua kelompok besar.

Kelompok pertama mengaitkan hilal dengan elongasi dan/atau beda tinggi Bulan-Matahari, seperti dilakukan al-Khwarizmi, ibn Maimun dan ibn Qurra’. Pada umumnya disimpulkan bahwa Bulan menempati status hilal jika elongasinya minimal 5 derajat dan beda tingginya minimal 13 derajat.

Sementara, kelompok kedua menekankan hilal sebagai fungsi dari Lag Bulan, seperti dilakukan oleh as-Sufi, al-Battani, ibn Sina, ath-Thusi, al-Farghani dan al-Kashani. Mereka umumnya menyimpulkan Bulan berstatus hilaal terjadi Lag Bulan minimal 48 menit, yang setara dengan beda tinggi Bulan-Matahari minimal 12 derajat.

Dapat dilihat bahwa pada saat itu, meski terdapat dua kelompok utama, mereka sama-sama menghasilkan kesimpulan yang hampir sama. Yakni Bulan menempati status hilal saat beda tingginya melebihi 12 atau 13 derajat.

Dibandingkan dengan masa kini, batasan ini terlihat ‘terlalu tinggi’. Namun, harus dicatat bahwa rukyat berbasis teleskop belum terdapat di era klasik, sehingga hanya sepenuhnya mengandalkan ketajaman mata tanpa alat bantu apapun.

* Muh Ma'rufin Sudibyo, Koordinator Riset Jejaring Rukyatul Hilal Indonesia & Ketua Tim Ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah Kebumen

Sumber
 

: Kompas.com, ; 
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

Selasa, November 02, 2010

Doa Imam 'Ali Zainal Abidin


Salah satu doa dari Imam 'Ali yang penuh dengan ungkapan cintanya kepada Allah SWT..
Perjumpaan dengan-Mu kesejukan hatiku
Pertemuan dengan-Mu kecintaanku
Kepada-Mu kerinduanku
Cinta-Mu tumpuanku
Pada Kekasih-Ku gelora rinduku
Ridha-Mu tujuanku
Melihat-Mu keperluanku
Mendampingi-Mu keinginanku
Mendekat kepada-Mu puncak permohonanku
Smoga, bisa menjadi panutan semua dalam mencintai Allah Swt.. Tuhan seru sekalian alam..

Kamis, Juli 01, 2010

Get 5 from 5 Ways


Banyak hal yang ingin diperoleh manusia, untuk kesejahteraannya di dunia. Namun tidak semua berpikir untuk menyiapkan bekalnya untuk diakherat kelak. Ada lima hal selain kewajiban kita untuk menegakkan tiang agama, yang Insya Allah akan memenuhi dengan kemudahannya saat meninggalkan kehidupan didunia.

Mendapatkan lima hal melalui lima jalan:
  1. Berkah Rejeki, akan diperoleh dari Sholat Dhuha
  2. Cahaya dalam kubur , akan diperoleh dari Shalat Tahajud
  3. Kemudahan dalam menjawab pertanyaan Malaikat Munkar dan alaikat Nakir, akan didapat melalui membaca Al-Qur'an
  4. Kemudahan dalam melintasi Siratal Mustaqim, akan didapat melalui Puasa dan sedekah
  5. Mendapatkan perlindungan Arsy Ilahi pada hari hisab, akan didapat melalui Zikrullah
Dari kelima hal ini, Insya Allah bisa mengingatkan kita semua akan kenikmatan Akhirat dan berlomba-lomba untuk segera meraih Surga disisi Allah SWT. AMIN

Sumber: Unknown

Rabu, April 28, 2010

Lisan Orang berakal

Lisan orang berakal muncul dari balik hati nuraninya.
Maka ketika hendak berbicara, terlebih dahulu dia akan kembali kepada hati nuraninya.

Bila bermanfaat, dia akan berbicara.
Dan bila berbahaya, dia akan menahan diri.

Sementara orang yang bodoh berada di mulut, ia akan berbicara sesuai apa yang ia mau

(HR. Bukhari-Muslim)

Senin, Juni 29, 2009

IMAN and ISTIQAMAH.......????


Dari Abu Amr atau Abu Amrah ra; Sufyan bin Abdullah Atsaqafi r.a. berkata, Aku berkata, Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan menanyakannya kepada seorangpun selain padamu. Rasulullah menjawab, “Katakanlah, saya beriman kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)

Tarjamatur Rawi

Sufyan bin Abdillah Al-Tsaqofi. Nama lengkapnya adalah Sufyan bin Abdillah bin Rabi’ah bin Al-Harits, Abu Amru atau Abu Amrah Al-Tsaqofi. Merupakan salah seorang sahabat Rasulullah saw. Beliau tinggal di Tha’if. Selain mengambil hadits dari Rasulullah saw., beliau juga meriwayatkan hadits dari Umar bin Khatab. Beliau pernah menjadi ‘Amil Umar bin Khatab di Tha’if.

Secara umum, hadits ini memiliki rangkaian sanad yang muttasil dan keseluruhan sanadnya tsiqah, kecuali Hisyam bin Urwah yang dikatakan tsiqah rubbama dallasa (tisqah namun terkadang mentadliskan hadits). Meskipun ulama hadits juga sepakat bahwa beliau merupakan Imam Faqih. Bahkan Imam Abu Hatim Al-Razi sampai mengatakan ‘Ma Ra’aitu Ahfafz Minhu’ (Aku tidak melihat ada orang yang lebih hafidz dari padanya). Dan kendatipun sebagian tidak menerima beliau sebagai perawi yang tsiqah, namun sesungguhnya pada posisi beliau dikuatkan pula melalui jalur sanad yang lain, yaitu oleh Imam Muhammad bin Muslim Al-Zuhri, dan juga melalui jalur Ya’la bin Atha’ Al-Amiri, yang semua sepakat dengan ketsiqahannya.

Gambaran Umum Tentang Hadits Ini

Dilihat dari isi kandungannya, hadits ini menggabungkan dua pokok permasalahan besar dalam Islam, yaitu Iman dan Istiqamah. Iman merupakan implementasi dari tauhid yang merupakan inti ajaran Islam, sedangkan istiqamah merupakan implementasi dari pengamalan aspek-aspek tauhid dalam kehidupan nyata. Dan kedua hal tersebut terangkum dalam hadits singkat ini, melalui pertanyaan seorang sahabat kepada Rasulullah saw.

Makna Hadits Ini

Dari pertanyaan sahabat di atas, yaitu Sufyan bin Abdillah Al-Tsaqafi r.a. tersirat bahwa iman dan istiqamah memiiki urgensitas yang tidak dapat digantikan dengan nilai-nilai lainnya dalam kehidupan. Ini terlihat dari pertanyaan beliau kepada rasulullah saw., ‘Wahai Rasulullah, katakanlah padaku satu perkataan yang aku tidak perlu lagi bertanya pada orang lain selain padamu.’ Kemudian rasulullah saw. menjawabnya dengan dua hal yang terangkai menjadi satu: istiqamah dan iman.

Dua hal ini merupakan aspek yang sangat penting dalam keislaman seseorang. Karena Iman (sebagaimana digambarkan di atas) merupakan pondasi keislaman seseorang bagaimanapun ia. Tanpa Iman semua amal manusia akan hilang sia-sia. Sehingga tidak mungkin istiqamah tegak tanpa adanya nilai-nilai keimanan. Penggambaran Rasulullah saw. dalam hadits ini, seiring sejalan sekaligus menguatkan firman Allah swt. dalam Al-Qur’an tentang istiqamah (QS. Fusshilat/ 41 : 30).

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”

Hakekat Istiqamah

Ditinjau dari segi asal katanya, istiqamah merupakan bentuk mashdar (baca; infinitif) dari kata istaqama yang berarti tegak dan lurus. Sedangkan dari segi istilahnya dan substansinya, digambarkan sebagai berikut :

Abu Bakar al-Shiddiq.

Suatu ketika orang yang paling besar keistiqamahannya ditanya oleh seseorang tentang istiqamah. Abu Bakar menjawab, ‘istiqamah adalah bahwa engkau tidak menyekutukan Allah terhadap sesuatu apapun. (Al-Jauziyah, tt: 331).

Mengenai hal ini, Ibnu Qayim Al-Jauzi mengomentari, bahwa Abu Bakar menggambarkan istiqamah dalam bentuk tauhidullah (mengesakan Allah swt.). Karena seseorang yang dapat istiqamah dalam pijakan tauhid, insya Allah ia akan dapat istiqamah dalam segala hal di atas jalan yang lurus. Ia pun akan beristiqamah dalam segala aktivitas dan segala kondisi. (Al-Jauziyah, tt : 331)

Umar bin Khatab.

Umar bin Khatab pernah mengatakan: Istiqamah adalah bahwa engkau senantiasa lurus (baca; konsisten) dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, serta tidak menyimpang seperti menyimpangnya rubah. (Al-Jauziyah, tt : 331)

Usman bin Affan.

Beliau mengatakan mengenai istiqamah, “Beristiqamahlah kalian yaitu ikhlaskanlah amal kalian hanya kepada Allah swt.”

Al-Hasan (Hasan al-Bashri)

Beliau mengemukakan, “Istiqamahlah kalian melaksanakan perintah Allah, dengan beramal untuk mentaati-Nya dan menjauhi berbuat kemaksiatan pada-Nya.” (Al-Jauzi, tt : 331)

Ibnu Taimiyah

Beliau mengatakan, “Isttiqmahlah kalian dalam mahabah (kepada Allah) dan dalam berubudiyah kepada-Nya. Dan jangalah menoleh dari-Nya (berpaling walau sesaat) baik ke kanan ataupun ke kiri.” (Al-Jauzi, tt : 332)

Ibnu Rajab Al-Hambali

Beliau mengemukakan bahwa istiqomah adalah menempuh jalan yang lurus, tanpa belok ke kiri dan ke kanan, tercakup di dalamnya ketaatan yang tampak maupun yang tidak tampak, serta meninggalkan larangan.

Dari penjelasan-penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istiqomah adalah implementasi dari nilai-nilai keimanan kepada Allah secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari baik secara lahiriyah maupun bathiniyah. Sehingga jika diimplemenatasikan dalam kehidupan dakwah kontemporer; seorang kader yang istiqomah, ia akan tetap konsisten menekuni jalan da’wah, apapun resiko dan konsekuensi yang harus dihadapinya. Seorang pejuang dakwah di parlemen yang istiqamah misalnya, akan senantiasa memperjuangkan ‘panji-panji’ dakwah, dengan segala kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya, tanpa ragu dan bimbang serta tidak tergoda dengan segala godaan duniawi. Dan seorang al-akh yang istiqomah adalah al-akh yang ‘berani’ untuk tetap konsisten memperjuangkan ideologi dakwahnya yang benar, meskipun bertentangan dengan rekan-rekannya yang mungkin lebih senior, lebih struktural ataupun lebih ‘besar’ dalam pandangan manusia.

Adalah Imam Ahmad bin Hambal, yang dikenal sebagai imamnya ahlus sunnah berani mempertahankan keyakinannya mengemukakan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah. Beliau menolak ‘kemakhlukan Qur’an’ sebagaimana yang dipropagandakan Mu’tazilah melalui jalur penguasa. Imam Ahmad tetap konsisten, meskipun berbagai siksaan menghujani beliau tanpa mengenal rasa kasihan. Dan yang lebih ironis adalah siksaan dilakukan oleh institusi struktural kekhalifahan yang resmi. Namun beliau tetap menjalaninya dengan penuh ketabahan dan keihlasan kepada Allah swt. Inilah salah satu contoh bentuk keistiqamahan.

Antara Istiqamah dan Istighfar

Terkadang muncul dalam persepsi bahwa orang yang istiqamah adalah orang yang konsisten dalam kebenaran dan tidak pernah sekalipun terjerumus dalam lubang kenistaan. Padalah sesungguhnya manusia tetaplah manusia, kendatipun takwanya ia. Ia pasti pernah berbuat kekeliruan ataupun kesalahan. Oleh karenanya, untuk mengclearkan masalah ini, dalam salah satu ayat-Nya di dalam Al-Qur’an, Allah swt. menggandeng antara istiqamah dengan istighfar kepada Allah swt., yaitu sebagaimana yang terdapat dalam QS. Fushilat/ 41 : 6 :

“Katakanlah: ‘Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya).”

Ayat di atas menggambarkan, bahwa setiap insan pasti pernah melakukan satu kelalaian atau kesalahan, tanpa terkecuali siapapun dia. Oleh karenanya, seorang muslim yang baik adalah yang senantiasa introspeksi diri terhadap segala kekurangan dan kesalahan-kesalahannya, untuk kemudian berusaha memperbaikinya dengan terlebih dahulu beristighfar dan bertaubat memohon ampunan kepada Allah swt.

Terlebih ketika mengarungi jalan dakwah yang penuh lubang dan duri, serta masafah (baca ; jarak tempuh) yang seolah bagaikan lautan tiada bertepi. Di sana banyak manusia-manusia yang beragam asal-usulnya, berbeda latar belakangnya; baik dalam keilmuan, pengalaman, cara pandang dan lain sebagainya. Tentulah hal ini memerlukan keistiqamahan dalam mengarunginya. Karena benturan, perbedaan ataupun kesilapan diantara sesama aktivis dakwah pasti terjadi.

Mustahil jika manusia sebanyak itu tidak pernah saling salah paham. Sedangkan suami istri yang telah diikat dengan kalimatullah, hidup bersama siang dan malam, pagi dan sore, masih memiliki perbedaan-perbedaan yang sulit dihindarkan. Apatah lagi, bagi sebuah kelompok besar yang masing-masing memiliki interest tersendiri. Namun yang lebih penting adalah, pasca kesalahan tersebut, apa yang ia perbuat kemudian? Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda, Dari Anas bin Malik ra, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Semua anak cucu adam berbuat kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah, adalah mereka-mereka yang bertaubat.” (HR.Tirmidzi)

Para ulama mengemukakan bahwa proses perbaikan diri dari kesalahan dan kekeliruan yang diperbuat, adalah juga bagian yang tak terpisahkan dari istiqomah itu sendiri. (Al-Bugha, 1993 : 175).

Buah Istiqamah

Istiqamah memiliki beberapa keutamaan yang tidak dimiliki oleh sifat-sifat lain dalam Islam. Diantara keutamaan istiqamah adalah :

1. Istiqamah merupakan jalan menuju ke surga. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. 41 : 30)

2. Berdasarkan ayat di atas, istiqamah merupakan satu bentuk sifat atau perbuatan yang dapat mendatangkan ta’yiid (baca ; pertolongan dan dukungan) dari para malaikat.

3. Istiqamah merupakan amalan yang paling dicintai oleh Allah swt.
Dalam sebuah hadits digambarkan : Dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Berbuat sesuatu yang tepat dan benarlah kalian (maksudnya; istiqamahlah dalam amal dan berkatalah yang benar/jujur) dan mendekatlah kalian (mendekati amalan istiqamah dalam amal dan jujur dalam berkata). Dan ketahuilah, bahwa siapapun diantara kalian tidak akan bisa masuk surga dengan amalnya. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang langgeng (terus menerus) meskipun sedikit. (HR. Bukhari)

4. Berdasarkan hadits di atas, kita juga diperintahkan untuk senantiasa beristiqamah. Ini artinya bahwa Istiqamah merupakan pengamalan dari sunnah Rasulullah saw.

5. Istiqamah merupakan ciri mendasar orang mukmin.
Dalam sebuah riwayat digambarkan: Dari Tsauban ra, Rasulullah saw. bersabda, ‘istiqamahlah kalian, dan janganlah kalian menghitung-hitung. Dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amal kalian adalah shalat. Dan tidak ada yang dapat menjaga wudhu’ (baca; istiqamah dalam whudu’, kecuali orang mukmin.) (HR. Ibnu Majah)
Cara untuk Merealisasikan Istiqamah

Setelah kita memahami mengenai istiqamah secara singkat, tinggallah kenyataan yang ada dalam diri kita semua. Yaitu, kita semua barangkali masih jauh dari sifat istiqamah ini. Kita masih belum mampu merealisasikannya dalam kehidupan nyata dengan berbagai dimensinya. Oleh karena itulah, perlu kiranya kita semua mencoba untuk merealisasikan sifat ini. Berikut adalah beberapa kiat dalam mewujudkan sikap istiqamah:

1. Mengikhlaskan niat semata-mata hanya mengharap Allah dan karena Allah swt. Ketika beramal, tiada yang hadir dalam jiwa dan pikiran kita selain hanya Allah dan Allah. Karena keikhlasan merupakan pijakan dasar dalam bertawakal kepada Allah. Tidak mungkin seseorang akan bertawakal, tanpa diiringi rasa ikhlas.

2. Bertahap dalam beramal. Dalam artian, ketika menjalankan suatu ibadah, kita hendaknya memulai dari sesuatu yang kecil namun rutin. Bahkan sifat kerutinan ini jika dipandang perlu, harus bersifat sedikit dipaksakan. Sehingga akan terwujud sebuah amalan yang rutin meskipun sedikit. Kerutinan inilah yang insya Allah menjadi cikal bakalnya keistiqamahan. Seperti dalam bertilawah Al-Qur’an, dalam qiyamul lail dan lain sebagainya; hendaknya dimulai dari sedikit demi sedikit, kemudian ditingkatkan menjadi lebih baik lagi.

3. Diperlukan adanya kesabaran. Karena untuk melakukan suatu amalan yang bersifat kontinyu dan rutin, memang merupakan amalan yang berat. Karena kadangkala sebagai seorang insan, kita terkadang dihinggapi rasa giat dan kadang rasa malas. Oleh karenanya diperlukan kesabaran dalam menghilangkan rasa malas ini, guna menjalankan ibadah atau amalan yang akan diistiqamahi.

4. Istiqamah tidak dapat direalisasikan melainkan dengan berpegang teguh terhadap ajaran Allah swt. Allah berfirman (QS. 3 : 101) :”Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”

5. Istiqamah juga sangat terkait erat dengan tauhidullah. Oleh karenanya dalam beristiqamah seseorang benar-benar harus mentauhidkan Allah dari segala sesuatu apapun yang di muka bumi ini. Karena mustahil istiqamah direalisasikan, bila dibarengi dengan fenomena kemusyrikan, meskipun hanya fenomena yang sangat kecil dari kemusyrikan tersebut, seperti riya. Menghilangkan sifat riya’ dalam diri kita merupakan bentuk istiqamah dalam keikhlasan.

6. Istiqamah juga akan dapat terealisasikan, jika kita memahami hikmah atau hakekat dari ibadah ataupun amalan yang kita lakukan tersebut. Sehingga ibadah tersebut terasa nikmat kita lakukan. Demikian juga sebaliknya, jika kita merasakan ‘kehampaan’ atau ‘kegersangan’ dari amalan yang kita lakukan, tentu hal ini menjadikan kita mudah jenuh dan meninggalkan ibadah tersebut.

7. Istiqamah juga akan sangat terbantu dengan adanya amal jama’i. Karena dengan kebersamaan dalam beramal islami, akan lebih membantu dan mempermudah hal apapun yang akan kita lakukan. Jika kita salah, tentu ada yang menegur. Jika kita lalai, tentu yang lain ada yang mengnigatkan. Berbeda dengan ketika kita seorang diri. Ditambah lagi, nuansa atau suasana beraktivitas secara bersama memberikan ‘sesuatu yang berbeda’ yang tidak akan kita rasakan ketika beramal seorang diri.

8. Memperbanyak membaca dan mengupas mengenai keistiqamahan para salafuna shaleh dalam meniti jalan hidupnya, kendatipun berbagai cobaan dan ujian yang sangat berat menimpa mereka. Jusrtru mereka merasakan kenikmatan dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan cobaan tersebut.

9. Memperbanyak berdoa kepada Allah, agar kita semua dianugerahi sifat istiqamah. Karena kendatipun usaha kita, namun jika Allah tidak mengizinkannya, tentulah hal tersebut tidak akan pernah terwujud.

Hikmah Tarbawiyah

Hadits di atas memiliki hikmah tarbawiyah yang patut untuk dicermati dan diajadikan pelajaran bagi aktivis dakwah masa kini. Diantara hikmahnya adalah:

1. Antusias sahabat dalam “menimba ilmu” dari Rasulullah saw., terutama mengenai hal yang terkait dengan kebahagiaan hakiki di kemudian hari bagi mereka sendiri. Bahkan sahabat tidak segan-segan menggunakan bahasa pertanyaan yang sangat spesifik, yang seolah jawabannya tidak dimiliki oleh siapapun kecuali hanya dari Rasulullah saw.

2. Jawaban yang diberikan Rasulullah saw. kepada sahabat yang bertanya padanya, merupakan jawaban yang singkat, padat, mudah dimengerti serta tidak menggunakan bahasa yang rumit dan sukar dipahami. Hal ini sekaligus memberikan pelajaran bagi para aktivis dakwah, bahwa hendaknya dalam memberikan arahan kepada audiens dakwah, menggunakan bahasa yang sesuai dengan kadar kemampuan mereka, serta jelas dari segi poin-poinnya.

3. Dari segi isi haditsnya, dapat ditarik satu kesimpulan yaitu bahwa sesungguhnya tidak dapat dipisahkan antara iman dan istiqamah. Karena konsekwensi iman adalah istiqomah. Sedangkan istiqomah merupakan keharusan dari adanya keimanan kepada Allah swt. Oleh karenanya dalam keseharian, seorang akh cukup dengan hanya penempaan keimanan melalui sarana-sarana tarbiyah dan ia dapat “bagus” di dalamnya. Hendaknya seorang al-akh juga harus tetap istiqamah kendatipun berada di luar majlis tarbiyahnya. Seperti ketika sedang berbisnis, ia harus “istiqamah” menjaga nilai-nilai tarbawi yang telah didapatnya dalam halaqah, ketika melakukan transaksi bisnis, baik dengan sesama ikhwah maupun dengan pihak lain. Demikian juga dalam aspek-aspek yang lainnya, seperti ketika berpolitik juga harus senantiasa istiqamah dalam implementasinya, kendatipun terdapat perbedaan yang sangat tajam antara lingkungan tarbawi dengan lingkungan siyasi.

4. Namun walau bagaimanapun juga, se-shaleh – shalehnya seorang yang shaleh, ia juga tetap merupakan seorang manusia biasa yang tentunya tidak akan luput dari noda dan dosa. Ketika berinteraksi mengamalkan nilai-nilai tarbawi di “dunia lain”, tentunya banyak lobang menganga yang siap “menelan” langkah-langkah kaki kita. Seperti salah dalam bertindak, sifat emosi dan marah, salah memberikan kebijakan dan lain sebagainya. Namun jika semua kesalahan tersebut “diakui” serta kemudian diperbaiki, maka insya Allah, hal ini merupakan bagian dari istiqamah. Namun sebaliknya, jika kesalahan tersebut semakin menyeretnya pada jurang kemurkaan Allah SWT, maka tentunya ia akan semakin terperosok dalam lembah kenistaan yang mendalam.

5. Istiqamah merupakan satu bentuk “proses pembelajaran” yang harus senantasa dilakukan oleh setiap al-akh. Karena hidup merupakan proses pembelajaran, menuju keridhaan Allah swt. Dan salah satu ciri dari pembelajaran adalah adanya kekeliruan. Dan dengan kekeliruan inilah, kita berupaya memperbaiki diri. Tanpa kesalahan, tidak akan pernah ada keberhasilan.

6. Istiqamah merupakan bentuk “manajemen” diri yang sangat baik dan disarankan oleh berbagai ahli menejemen. Karena istiqomah adalah implementasi dari emotional controlling yang terdapat dalam diri seseorang. Dan paradigma yang populer sekarang ini adalah bahwa kunci keberhasilan yang paling besar adalah dengan kontrol emosi. Seseorang yang memiliki kontrol emosi yang baik, maka prosentase keberhasilannya akan lebih besar, dibandingkan dengan orang yang memiliki kecerdasan intelektual sekalipun.

7. Istiqamah sangat diperlukan, terutama bagi “bekal” dari panjangnya perjalanan dakwah. Ibarat orang yang lari maraton 10 km, maka ia tidak boleh berlari sprint pada 100 m awal, kemudian setelah itu ia kelelahan.

from: Maybina Puspa's Notes at FB

Jumat, Juni 19, 2009

Renungan Sebelum Tertidur

Manusia memang tidak pernah lepas dari khilaf dan dosa. Karena itu, paling tidak untuk mengontrol keseharian kita. Sebagaimana keinginan kita untu "berbuat sebaik-baiknya untuk hari ini."

Pernah mendengar suatu hadits yang bunyinya,

"Celakalah orang yang amalnya lebih jelek dari kemarin, merugilah orang yang amalnya sama dengan kemarin, dan beruntunglah orang yang amalnya lebih baik dari kemarin."

Karena itu, sepatutnya kita berfikir dan menanyakan beberapa pertanyaan untuk diri kita sendiri:
  1. Perbuatan baik apa saja yang sudah Saudara lakukan hari ini?!
  2. Sudahkah Saudara meluruskan niat untuk ikhlas saat akan melakukan perbuatan tersebut?!
  3. Perbuatan buruk apa saya yang sudah Saudara lakukan hari ini?!
  4. Sudahkah Saudara meminta ma'af kepada mereka yang Saudara dzalimi (pada orang lain ataupun pada diri sendiri) ?!
  5. Siapakah tokoh nyata dalam lingkungan Saudara sekarang yang Saudara kagumi dan kiranya patut untuk dicontoh?!
  6. Sudahkah Saudara "seperti" beliau?!
  7. Bila Saudara meninggal saat ini juga, Saudara ingin dikenang seperti apa?!
Insya ALLAH bisa menjadi bahan renungan dan merubahnya menjadi lebih dari sekedar baik.

AMIEN

Selasa, Mei 12, 2009

Sukses

Kita harus berkomitmen untuk belajar dari kesalahan2 kita di masa lalu, ketimbang menyesalinya kalau tidak kita pasti akan mengulangi kesalahan2 itu di masa mendatang.

Ketika kamu kamu sedang jatuh untuk semntara waktu, ingatlah bahwa tidak ada yang namanya kegagalan dalam kehidupan ini. Yang ada hanyalah HASIL.

Renungkanlah pepatah ini :
Sukses adalah hasil dari pertimbangan yang baik, pertimbangan yang baik adalah hasil dari pengalaman, dan pengalaman itu seringkali hasil dari pertimbangan yang buruk!

Apakah yang telah kamu pelajari dari kesalahan2mu di masa lalu yang bisa kamu gunakan untuk meningkatkan kualitas hidupmu...?


Salam Spektakuler

Selasa, Mei 05, 2009

Jauhi Ulama Penguasa

Berikut adalah beberapa riwayat yang seharusnya membantu menyadarkan umat akan adanya perbedaan antara ulama yang benar dan palsu. Kebanyakan dari ulama yang benar pada hari ini, tidak lain berada di dalam tahanan atau di barisan depan pada medan pertempuran.
‘Abdullah IbnuAbbas berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda:

Akan ada penguasa yang kamu kenal dari mereka yang baik dan jahat. Siapa saja yang menentangnya akan selamat. Siapa saja yang berlepas dir darinya akan selamat. Dan siapa saja yang bersama dengan mereka akan binasa.”
(Dikoleksi oleh Ibnu Abi Syaibah dan At-Tabarani; Al-Al Bany dalamShahih Al-Jaami’”, Hadits No. 3661)

Abul A’war As-Sulami berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda,

Hati-hati terhadap pintu-pintu penguasa; di
sana ada kesukaran dan kehinaan.”
(Dikoleksi Oleh Ad-Dailamii dan At-Tabaraani; Al-Al Bany “As-Silsilah As-Shahiihah, Hadits 1253)

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda,

Siapa saja yang mendekati pintu-pintu penguasa akan menderita. Siapa dari seorang hamba yang semakin mendekati penguasa, dia hanya memperbesar jarak dari Allah.”
(Dikoleksi oleh Ahmad; Al-Al Bany dalamSahiih at-Targhiib wat-Tarhiib”, hadits no. 2241)

Jaabir IbnuAbdillah berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda, kepada Ka’ab Ibnu Ujrah,

Wahai Ka’ab Ibnu Ujrah, Aku mencari lindungan Allah untukmu dari kepemimpinan orang bodoh. Akan ada penguasa, siapa saja yang datang kepada mereka kemudian membantu mereka dalam kezaliman dan membenarkan kebohongan mereka, maka dia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan tidak membantu mereka dalam kezaliman mereka, tidak juga membenarkan kebohongan mereka, maka dia dari golonganku dan aku dari golongannya, dia akan diizinkan menuju ke Haud (Telaga Rosulullah saw. di surga).”
(Dikoleksi oleh Ahmad, Al-Bazzar, Ibnu Hibban; Al-Al Bany dalamShahih At-Targhib wat Tarhib”, Hadits No 2243)

Selain itu, ada berbagai riwayat dari perkataan Shahabat, yang dalam hal ini As-Suyuti telah mengumpulkan dari ‘Ali Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, Hudzaifah Ibnu Al-Yaman, dan Abi Dzar, riwayat yang memperingatkan mendekati penguasa atau pintu-pitu penguasa. Lihatlah “Maa Rawahul Asaatiin Fii ‘Adam Al Majii’ Ilas Salaatin”.

Ada begitu banyak dengan pengertian yang sama, berikut beberapa contoh:

Ibnu Mas’ud berkata,

“Siapa saja yang menginginkan kemuliaan diennya, maka dia seharusnya tidak datang kepada penguasa.”
(dikoleksi oleh Ad-Daarimi)

Ibnu Mas’ud juga berkata,

“Seorang pria datang kepada penguasa, membawa diennya dengannya, maka pergi tanpa membawa apapun.”
(Dikoleksi oleh Al-Bukhari dalam “Taarikh”nya dan Ibnu Sa’ad dalam “At-Tabaqaat”).

Hudzaifah Ibnu Al-Yaman berkata,

“Sungguh! Seharusnya tidak ada diantara kalian yang jalan walaupun satu hasta ke arah penguasa.”
(Dikoleksi oleh Ibnu Abii Syaibah)

Dia mengumpukan dari ulama setelah Salaf, riwayat yang sama dari Sufyan At-Tsauri, Sa’id Ibnu Al-Musayyib, Hammad Ibnu Salamah, Al-
Hasan Al-Basri, Ibnu Al-Mubarak, Abi Haazim, Al-Awzaa’i dan Al-Fudhail Ibnu Al ‘Iyaad.

Disini adalah beberapa contoh dari Ulama Salaf:

Sufyan At-Tsauri berkata,

“Jangan pergi, walaupun jika mereka memintamu untuk mengunjungi mereka hanya untuk membacakan ‘qul huwallaahu ahad’.”
(Dikoleksi oleh Al-Baihaqi)

Maalik Ibnu Anas berkata,

“Aku bertemu lebih dari 10 dan beberapa Taabi’in, semua dari mereka berkata, jangan pergi kepada mereka, jangan menegur mereka, yang berat ke penguasa.”
(Dikoleksi oleh Al-Khatib Al-Baghdaadi dalam “Ruwah Maalik”).

Sufyan At-Tsauri berkata,

“Memandang penguasa adalah sebuah dosa.”
(Dikoleksi oleh Abi Ali Al Aamudi dalam “Ta’liiq”nya)

Bisyr Al-Haafi berkata,

“Betapa menjijikkan apakah itu permohonan untuk melihat seorang ulama, tetapi kemudian untuk mendapatkan jawaban bahwa dia berada di pintu penguasa.”
(Dikoleksi oleh Al-Baihaqi dalam “Syu’ab Al-Imaan”)

Hal yang masih tersisa adalah masalah bahwa: bukankah berbicara kebenaran di depan penguasa tiran adalah jihad yang paling besar? Jawabnya adalah : ya, tetapi riwayat yang lain menyebutkan mengapa itu adalah jihad yang paling besar dan syahid (bagi pelakunya), karena setelah dia menyerukan kebaikan dan mencegah kemunkaran, penguasa membunuhnya. Ini benar-benar nyata berbicara tentang kebenaran, tidak mengikuti hawa nafsu dan mengunjungi penguasa secara harian sampai ulama tersebut kemudian menjadi penasehat pribadinya.

Orang-orang Salaf takut bahwa kebanyakan orang-orang begitu lemah untuk berdiri tegak di depan penguasa, tetapi malah akan terpengaruh oleh kekuasaannya dan kekayaan, dengan demikian menjustifikasi dan mengkompromikan dien dengan penguasa, dimana persis dengan apa yang kita lihat di hari ini pada “ulama” kita. Betapa bijaknya orang-orang Salaf dan betapa bodohnya (sebahagian besar) Khalaf (ulama masa kini).

Wallahu’alam bis showab!

source: almuhajirun.net

Jumat, Maret 27, 2009

Aturan Kebahagiaan

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur.

Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam sementara si

petani memikirkan apa yang harus dilakukannya.

Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu

ditimbun (ditutup - karena berbahaya); jadi tidak berguna untuk

menolong

si keledai. Dan ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang

membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam

sumur.

Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia

menangis penuh kengerian.

Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam.

Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani

melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya.

Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan

kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan.

Ia mengguncang- guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya

turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.

Sementara tetangga2 si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas

punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan

melangkah naik.

Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi

sumur dan melarikan diri !



Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala

macam

tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari 'sumur'(kesedihan, masalah,

dsb) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri

kita

(pikiran dan hati kita) dan melangkah naik dari 'sumur' dengan

menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.

Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk

melangkah.

Kita dapat keluar dari 'sumur' yang terdalam dengan terus berjuang,

jangan pernah menyerah !

Ingatlah aturan sederhana tentang Kebahagiaan :

1. Bebaskan dirimu dari kebencian

2. Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan

3. Hiduplah sederhana.

4. Berilah lebih banyak.

5. Tersenyumlah.

6. Miliki teman yang bisa membuat engkau tersenyum.



Seseorang telah mengirimkan hal ini untuk kupikirkan, maka aku

meneruskannya kepadamu dengan maksud yang sama. "Entah ini adalah waktu

kita yang terbaik atau waktu kita yang terburuk, inilah satu-satunya

waktu yang kita miliki saat ini !



Have a Good Day....

Sabtu, Februari 21, 2009

Menjemput Rizki di Perut Bumi

Oleh : Muhammad Rizqon – Kamis, 19 Jumadil Akhir 1428 H / 5 Juli 2007 15:28 WIB

Namanya Doddy. Usia hampir 40 tahun. Bergabung di perusahaan pertambangan ini sejak beliau tamat dari sebuah universitas di Palembang. Rendah hati, humoris, dan suka membantu rekan yang kesulitan. Dengan sifat-sifat itulah semua orang - terutama di unit kerjanya termasuk saya, merasa akrab dengan beliau.

Perusahaan tempat kami bekerja ini, dulunya milik belanda yang kemudiaan di ambil alih oleh pemerintah. Kantor pusat pada awalnya di Jakarta, sedangkan unit-unit produksi tersebar di Kepulauan Bangka-Belitung dan Kepulauan Riau. Banyak cerita hiperbolis berkaitan dengan masa-masa kejayaan perusahaan.

Para pejabat di unit-unit produksi waktu itu pergi-pulang Jakarta layaknya orang masuk-keluar toilet. Gambaran bagi frekuensi mobilitas dan kekuatan financial. Mandi menggunakan air mineral sudah biasa, karena air tanah mengandung unsur bahan tambang. Berbagai fasilisitas dan kemudahan diberikan kepada Pejabat Pemda tanpa harus merasa menjadi “sapi perah”. Fasilitas umum dan insfrastruktur banyak dibangun. Sekolah, Rumah Sakit, tempat ibadah, jalan, jembatan, lapangan terbang, listrik dan banyak lainnya. Waktu itu pulau Sumatera masih gelap gulita belum ada listrik. Namun pulau Bangka terang benderang karena memiliki PLTU terbesar di Asia Tenggara yang dibangun perusahaan. Hasil tambang perusahaan lebih berharga dibanding minyak. Perusahaan memiliki kendali atas harga tambang di pasaran dunia. Fantastic!.

Itulah kejayaan masa lalu. Seiring dengan waktu, penurunan berjalan hari demi hari sampai pada titik nadhirnya. Restrukturisasi pernah dilakukan, namun tidak mampu mengejar kenangan kejayaan masa lampau. zaman telah berubah. Cadangan tambang kian menipis, alat produksi makin tua, harga tambang jatuh di pasaran, laba perusahaan makin menurun, dan penyakit KKN kian menggerogoti perusahaan.

Dulu hasil penggalian jarang meleset dari rencana. Namun sekarang tidak lagi. Suatu cadangan tambang telah disurvey matang, tetapi pada saat digali ternyata tidak ada apa-apanya. Nihil. Tidak signifikan. Padahal biaya yang telah dikeluarkan cukup besar. Belum lagi biaya penggalian yang menelan biaya puluhan milyar. Ironis. Aroma kecurigaan antar unit pun tak terelakkan terjadi. Masing-masing merasa sudah optimal dalam tugasnya. Tetapi kenapa hasilnya begini? Mucul lelucon bahwa cadangan tambang itu bisa berpindah-pindah atau hilang tanpa sebab. Sesuatu yang tidak masuk akal dan absurd tentunya!

***

“Bapak-bapak, sebelum bekerja, mohon agar bapak-bapak mau melakukan sholat dhuha. Mungkin Allah tidak mengeluarkan cadangan tambang dari perut bumi karena kita tidak rajin sholat dhuha. ” Kata Doddy saat melakukan kunjungan pada unit-unit produksi perusahaan suatu ketika.

“Doa dhuha itu kan bunyinya kalau nggak salah: ‘Ya Allah, jika rezkiku jauh maka dekatkanlah, jika sulit maka mudahkanlah. Jika ada dilangit maka turunkanlah, jika ada di perut bumi maka keluarkanlah’. Rezki kita ini ada di perut bumi. Kalau hasil kita sedikit, mungkin Allah belum mengeluarkannya kepada kita.”

Doddy selalu “berkampanye” untuk sholat dhuha. Beliau begitu antusias dan yakin betul bahwa seandainya karyawan perusahaan secara kompak rajin sholat dhuha, keajaiban akan terjadi. Tanpa segan beliau ungkapkan “hipotesa” ini dihadapan para pejabat perusahaan pada momen rapat bulanan produksi. Kontroversial. Bukankah seharusnya Doddy, sebagai auditor perusahaan, memberikan rekomendasi yang rasional, yaitu menghilangkan penyebab utama atau meminimalisirdampak yang terjadi?

***

Saya berfikir. Bisa jadi benar bahwa rekomendasi sholat dhuha menghilangkan sebab utama yang menimpa perusahaan. Karena sebenarnya sumber dari kegiatan yang tidak efisien, tidak efektif, dan boros adalah penyakit KKN yang bersarang. Sholat dhuha tidak serta merta membatasi dan mereduksi penyakit tersebut. Jika perusahaan membudayakan sholat dhuha, itu artinya perusahaan menciptakan “lingkungan pengendalian” yang baik. Dan ini bisa berimbas pada penguatan moral karyawan untuk tidak korupsi.

Saya mengambil hikmah bahwa ajakan sholat dhuha adalah ajakan untuk menyerahkan pengaturan rezeki hanya kepada Allah. “Laa raaziqan illa Allah, Tiada pemberi rezeki selain Allah”. Jika demikian maka niatpun terjaga, langkah terbimbing, dan keberkahan diperoleh.

***

Saya berenung. Ketika sahabat Rosulullah mengetahui bahwa ada makanan haram yang masuk ke perutnya, maka dengan segala upaya akan dimuntahkannya. Resikonya luar biasa. Doanya tidak akan didengar Allah. Daging yang tumbuh darinya akan dibakar dengan api neraka. Na’udzubillahi min dzalik.


KKN tidak hanya menimpa perusahaan Doddy. Mayoritas perusahaan dan organisasi di negeri ini terkena penyakit KKN kronis. Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Jagalah diri dari tindak korupsi. Waallahua’lam.

Sumber : eramuslim.com

Selasa, Februari 03, 2009

Sabar vs Ikhlas

IKenapa ya?! kata orang, kedua hal diatas ko' sulit banget dilakuin. Padahal ada kuncinya buat masing-masing problema...

Sabar bisa dikatakan lebih mudah di lakukan dari pada yang namanya Ikhlas, ko' bisa?!

Kesabaran merupakan salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa kesabaran setengah keimanan. Sabar memiliki kaitan erat dengan keimanan: seperti kepala dengan jasadnya. Tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran, sebagaimana tidak ada jasad yang tidak memiliki kepala. Sabar merupakan istilah dari bahasa Arab dan sudah menjadi istilah bahasa Indonesia. Asal katanya adalah “shabara”, yang membentuk infinitif (masdar) menjadi “shabran“. Dari segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah. Terutama pada suatu hal yang bisa membangkitkan amarah.

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai pemimpinmu, Sesunguhnya Allah beserta orang - orangyang sabar

(QS. Al Baqarah : 153)

Lain dengan Ikhlas, lebih sulit dibandingkan bicaranya. Biasanya suatu hal tertentu dilakukan dengan imbalan. Kadang ada perasaan yang amat sayang untuk dilakukan. Semisal, ketika seseorang yang sangat disayangi terpaksa pergi ... . Sakit hati untuk merelakan atasnya.

“Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

(QS. Al-An’am : 162)

Sabar bisa dilakukan, karena atas kemauan diri sendiri, untuk kebaikan sendiri sehingga lebih baik untuk dilakukan. Tetapi Ikhlas menyangkut akan hal yang membawa kebaikan untuk dirinya, musnah begitu saja dari pandangan.
Bukan Ikhlas namanya jika tidak membawa manfaat pada dirinya sendiri..